kota-mati

Cara Menghidupkan Bumi Mati

Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapa yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan bumi setelah matinya dengan air itu?” sungguh mereka akan menjawab: “Allah!”. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”. Namun kebanyakan mereka tidak memahami (al-Ankabut [29]: 63)

Oleh: Jamaluddin
(Div. Program Center of Waqf Bani Umar)

664xauto-fenomena-mengerikan-di-laut-mati-150730i

Abu Muhammad Makki (355-437 H) di dalam kitab tafsirnya, al-Hidayah ila Bulugh al-Nihayah, mengaitkan ayat ini dengan kekeringan dan kemarau/kelaparan. Artinya, dia berpendapat bahwa bumi mati adalah bumi di mana terjadi kekeringan dan kelaparan. Maka bumi hidup adalah bumi di mana hujan turun sebagai sebuah nikmat dari Allah swt. Ayat ini mempunyai frasa ‘segala puji bagi Allah’ yang dari frasa ini disimpulkan bahwa hujan di musim kemarau dan di saat kelaparan adalah sebuah nikmat. Namun masih ada saja orang-orang yang tidak memahami bahwa agama Islam menghargai kemanfaatan air dan potensi buruk manusia di dalam merusak air itu.

Wahbah al-Zuhaili di dalam kitab tafsirnya, al-Tafsir al-Wajiz, juga mengaitkan ayat ini dengan kekeringan dan kemarau/kelaparan. Selain sama singkat dan padat, penafsiran Wahbah dan Makki menggunakan pola yang sama bahwa turunnya hujan menghidupkan bumi dari kekeringan dan kelaparan. Wahbah menambahkan satu poin penting bahwa cara menghidupkan bumi itu, melalui air, adalah dengan menumbuhkan pepohonan. Lalu menurut Wahbah frasa ‘segala puji bagi Allah’ di ayat ini adalah tentang sebuah argumentasi dan implementasinya. Jadi, ayat ini bukan tentang nikmat melainkan sebuah argumentasi yang mematahkan kontradiksi orang-orang itu.

Ibn al-Jauzi (508-597 H) di dalam kitab tafsirnya, Zad al-Masir fi ‘Ilm al-Tafsir, menafsirkan ayat ini dengan sangat singkat, lebih singkat dari penafsiran Makki dan Wahbah. Ibn al-Jauzi tidak menyinggung air, hujan, bumi, dan, apalagi, pohon. Jika Makki dan Wahbah menyebut bahwa frasa ‘mereka’ di dalam ayat ini adalah ‘kaum musyrik’ maka Ibn al-jauzi menyebutnya ‘orang-orang kafir Makkah’. Ayat ini adalah tentang ikrar dan pengakuan mereka bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi yang mengendalikan matahari dan bulan sekaligus menghidupkan bumi yang mati, sehingga frasa ‘segala puji bagi Allah’ adalah atas pengakuan mereka. Maka bisa dimengerti apa maksud konradiksi yang dikemukakan Wahbah, yaitu kontradiksi pengakuan dan pengingkaran. Mereka mengakui Allah sebagai pencipta, namun mengingkari-Nya sebagai satu-satunya Tuhan (monoteisme).

Al-Baidhawi (w 685/692 H) di dalam kitab tafsirnya, Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil, menyebut bahwa mereka yang ditanya di dalam ayat ini adalah penduduk Makkah. Lalu frasa ‘segala puji Allah’ adalah atas keterjagaan Rasulullah saw dari kesesatan dan sebuah kebenaran dan argumentasi. sebagaimana Ibn al-Jauzi, al-Baidhawi tidak menaruh perhatian khusus terhadap tafsir tentang menghidupkan bumi mati dengan menumbuhkan pepohonan melalui air. Ini bisa dipahami dari isu-isu lingkungan, penghijauan, dan kelestarian alam di masa para ahli tafsir hidup yang masih belum berkembang sepesat era ini.

Al-Maraghi menafsirkan bahwa yang dimaksud bumi di ayat ini adalah gurun yang tak ada tumbuh-tumbuhan dan air. Kemudian setelah hujan turun, gurun itu bangkit menghijau. Menjadi penting digarisbawahi bahwa bumi yang hidup adalah bumi yang penuh pepohonan. Tak ada kata yang bisa mewakili arti kata hijau penafsiran al-Maraghi ini kecuali bumi yang penuh dengan pohon-pohon, tumbuh-tumbuhan, dan tetanaman.

Menghidupkan bumi atau gurun dengan menurunkan air hujan mengindikasikan saling keterkaitan antara bumi, air, dan pepohonan. Air adalah sumber kehidupan. Namun air sendirian, tanpa pohon, tak akan menghidupkan bumi. Maka air membutuhkan pohon agar bumi hidup. Air yang proporsional menumbuhkan pohon-pohon yang menghidupkan bumi. Air yang terlalu banyak berpotensi mengakibatkan banjir dan longsor tanah. Pohon berfungsi mengurangi potensi banjir dan tanah longsor itu. Jadi selain menghidupkan bumi, pohon juga berfungsi menjaga kehidupan bumi agar tetap berlangsung.

Pemilihan kata ‘menghidupkan’ di dalam al-Quran sangat tepat. Jika diperhatikan, al-Quran menggunakan frasa ‘menghidupkan bumi dengan cara menumbuhkan pepohonan melalui air hujan yang turun dari langit’ di banyak ayat-ayat di dalamnya. Makhluk hidup tak mampu hidup tanpa bernafas. Nafas makhluk hidup itu diperoleh melalui proses photosintesis di hijau daun. Jadi benar bahwa al-Quran menghidupkan makhluk hidup melalui pepohonan.

Menyadari pentingnya pohon dan air bagi kehidupan maka sudah sepantasnya manusia menjaga bumi ini dengan menanam pohon-pohon. Rasulullah saw bersabda tentang pentingnya menanam pohon: “Tidak ada seorang manusia yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung, manusia atau hewan memakannya kecuali dia akan mendapatkan sedekah karenanya” (HR al-Bukhari). Sayyidina Umar Ibn al-Khattab ra bahkan pernah berjanji bahwa seandainya besok hari kiamat terjadi, dia akan tetap menanam pohon sebab dia tidak tahu siapa yang menanam pohon di masa lalu yang dia nikmati buahnya di masa sekarang.

Ibn Jarir al-Thabari (224-310 H) di dalam kitab tafsirnya, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Quran, mengulang dua kali frasa ‘menghidupkan’. Dia mencatat bahwa Allah swt menghidupkan bumi melalui air. Lalu dia mencatat sekali lagi bahwa menghidupkan bumi adalah menumbuhkan tetanaman di atas permukaan bumi itu. Pengulangan ini seakan menegaskan betapa pentingnya pepohonan bagi kehidupan.

Thahir Ibn ‘Asyur di dalam kitab tafsirnya, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, mencatat bahwa kematian tetumbuhan berarti kematian bumi. Kematian bumi itu terjadi setelah sebelumnya bumi pernah hidup. Bumi hidup melalui air yang menumbuhkan tetumbuhan.

Ulah dan onar tangan manusia membunuh bumi dengan merusak lingkungan, menebang pohon sembarangan, kebakaran hutan, dan deforestasi. Lahan-lahan hijau ditanami rumah-rumah. Jalan raya dan halaman diaspal dan disemen menghalangi air terserap. Akibatnya, air tak terserap mengakibatkan banyak bencana.

Connect with Me:

Leave a Reply