http://wakafbaniumar.org

Strategi Nadhir dalam Pengembangan Wakaf

Kutipan Seminar Pembinaan Lembaga Wakaf dan Nadhir Wakaf Se-Kabupaten Pekalongan.

(Strategi Nadhir dalam Pengembangan Wakaf)

Penyelenggara:

Kemenag Kab. Pekalongan

Pembicara:

  1. Anang Rikza Masyhadi, M

Kamis, 3 Maret 2016

======================

http://wakafbaniumar.org

Islam dalam menyejahterakan umat memiliki instrumen perekonomian melalui zakat dan wakaf, namun sayangnya potensi zakat & wakaf umat belum tergali secara maksimal.

Zakat adalah kewajiban dan menjadi salah satu rukun Islam, sementara wakaf bukan kewajiban. Wakaf adalah pilihan (sunnah muakkadah). Artinya, jika orang tidak mau menunaikan zakat (padahal dia mampu), maka baginya dosa telah meninggalkan kewajiban. Sedangkan orang yang enggan berwakaf tidak dikenai dosa, hanya saja ia tidak mendapatkan keutamaan dan kemuliaan wakaf.

Hukum wakaf semuanya bersifat ijtihadiyah dan kias. Tidak ada nash khusus yang spesifik, baik dalam Al-Quran maupun Hadis tentang wakaf, tidak seperti zakat yang ayat dan hadisnya eksplisit. Maka, hukum-hukum wakaf mengambil kias dari hukum-hukum lain yang serupa.

Karena hukum wakaf adalah ijtihadiyyah, maka ada dua pendapat tentang masa berlakunya wakaf. Yaitu wakaf harus abadi (muabbad), dan pendapat lain wakaf boleh bersifat sementara / temporer (muaqqot). Utk harta tidak bergerak, wakaf harus bersifat abadi.

Untuk obyek wakaf yang sifat kegunaan dan kedudukannya telah diketahui bersama baik dalam agama maupun adat masyarakat, seperti masjid, kuburan dan jalan, misalnya, maka wakaf-wakaf tersebut mutlak harus bersifat abadi. Artinya, tidak boleh orang mewakafkan masjid, kuburan, atau jalan hanya untuk sementara waktu (temporer), karena hal demikian akan menimbulkan gejolak di masyarakat; sesuatu yang justru bertentangan dengan maksud dan tujuan wakaf itu sendiri.

Sedangkan wakaf temporer, misalnya seperti orang yang memiliki lebih dari satu rumah, lalu dia mewakafkan salah satu rumahnya untuk digunakan tempat tinggal mahasiswa atau penggiat dakwah, namun sifatnya sementara waktu. Atau orang yang mewakafkan salah satu mobilnya untuk digunakan mobilitas dakwah selama waktu tertentu.

Apa tujuan wakaf? Salah satunya adalah supaya harta tidak berputar di lingkungan orang-orang kaya saja, supaya potensi ekonomi terdistribusi kepada umat.

كي لا يكون دولة بين الأغنياء منكم

Tips mengelola wakaf yaitu memiliki amanah dan cita-cita. Amanah saja belum cukup. Banyak pengelola wakaf di pedesaan yang kebingungan ketika mau menerima wakaf ratusan juta, apalagi miliaran, butuh rapat dahulu dengan pengurus wakaf lainya dan waktunya lama. Itu artinya tidak punya cita-cita. Cita-cita diwujudkan dlm bentuk visi, master plan, siteplan, dan program-program pengembangan jangka menengah dan panjang.

Tidak sedikit pula lembaga wakaf yang memiliki cita cita besar tetapi tidak amanah dalam mengelola wakaf. Ini sangat berbahaya, krn tanpa amanah bisa-bisa dana wakaf habis tak ada wujudnya. Amanah ini sangat penting baik bagi wakif maupun nadzir, tanpa amanah maka tujuan wakaf tidak bisa dilaksanakan dengan baik.

Sepanjang sejarah Islam, wakaf sangat jelas memiliki peran sentral dalam Sejarah Peradaban Islam, berikut beberapa contoh-contohnya:

▶Peperangan fi sabilillah pada zaman Rasulullah SAW dan juga pada masa sahabat berasal dari harta wakaf. Senjata dan perlengkapan perang adalah wakaf dari para kaum muslimin, karena saat itu belum dibiayai oleh negara seperti pada saat ini. Ada yang wakaf pedang, baju besi, dan lain sebagainya.

▶Rasulullah SAW sesampai di Madinah, pertama kali adalah menggerakkan wakaf masjid, kemudian wakaf untuk pasar di dekat masjid, dan kemudian wakaf untuk pertahanan militer. Masjid Quba dan Masjid Nabawi adalah contoh kongret yang sangat fenomenal dan abadi tentang wakaf masjid.

▶Kemudian setelah itu, wakaf berkembang kegunaannya ke sekolah-sekolah. Contoh paling nyata dan fenomenal adalah Imam Ghazali yang sarana belajarnya merupakan hasil wakaf kaum muslimin. Ada sebuah ruangan berasal dari wakaf yang digunakan belajar sehari-hari Imam Ghazali. Tradisi wakaf untuk pengembangan ilmu ini terus berkembang hingga saat ini; Al-Azhar Mesir adalah contoh wakaf untuk pengembangan ilmu. Ratusan ribu mahasiswa belajar di Al-Azhar dan ratusan ribu telah menghasilkan alumninya yg berkiprah di seluruh dunia, semuanya berasal dari wakaf. Yusuf Qardhawi, Wahbah Zuhaili, Mutawalli Sya’rawi, Ramadhan Al-Buthi, adalah para ulama-ulama abad ini yg populer di dunia muslim, mereka semua adalah produk dari universitas yang pembiayaannya berbasis wakaf.

▶Di Uni Emirates Arab, pendiri UEA, Syaikh Zaid mewakafkan $ 1 Miliar pada akhir tahun 70an yang diinvestasikan (wakaf produktif). Inilah yg disebut Wakaf Uang (waqf nuqud mubasyir). Dari keuntungan investasi produktif itulah yang digunakan untuk membangun perguruan tinggi, rumah sakit, jalan raya dan lain sebagainya, bahkan tersebar bantuannya ke seluruh dunia hingga ke Eropa.

Gerakan wakaf ini lalu diinstitusikan menjadi Yayasan untuk kebaikan dan kemanusiaan, dan turun temurun hingga sekarang ini diteruskan oleh Syaikh Khalifah di Abu Dhabi dengan Khalifa Foundationnya. Ini contoh wakaf produktif yang baik yang dilakukan oleh seorang pemimpin negara.

▶Al-Azhar yang telah berumur 1060 tahun, adalah contoh paling sukses dalam sejarah peradaban Islam tentang pengembangan wakaf produktif. Al-Azhar memiliki pertanian, peternakan, jasa konstruksi, pertokoan, rumah sakit, bahkan moda transportasi, yang semuanya berasal dari wakaf. Lebih dari 1jt pemuda dari warga Mesir maupun warga dunia Islam lainnya tiap tahunnya mendapat beasiswa studi dari Al-Azhar. Sebagin besar adalah hasil wakaf produktif.

▶Di Makkah, Saudi Arabia, jika Anda keluar dari Masjidil Haram Anda akan menjumpai ada bangunan tinggi menjulang ke langit. Itu semuanya hotel dan mall (hotel Zam-zam Tower). Tanahnya adalah wakaf dari Raja Abdul Aziz dan kemudian pada masa Raja Fahd bin Abdul Aziz (sebelum wafatnya) dibangun perhotelan dan mall yang sangat modern. Sebagian besar hasil sewa kamar hotel dan mall diwakafkan untuk perawatan, perluasan dan pembangunan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Tanahnya wakaf, bangunannya wakaf, dan manfaat dari bangunan tersebut (sewa hotel dan pertokoan) juga diwakafkan. Inilah contoh lain dari wakaf produktif (waqf nuqud mubasyir).

Di banyak negeri-negeri muslim, wakaf bukanlah menjadi bagian sampingan, maka negara membentuk Menteri Perwakafan. Artinya, urusan wakaf diurus oleh lembaga setingkat Menteri (Kementerian Wakaf Mesir, Kementerian Wakaf Saudi, Kementerian Wakaf Kuwait, dll).

Di Indonesia yg menjadi negara muslim terbesar di dunia, masalah wakaf masih ditangani level Direktur ke bawah. Semestinya ke depan ada Menteri Wakaf tersendiri, mengingat secara geografis Indonesia sangat luas bentangan wilayahnya dan secara demografis jumlah umat Islam juga sangat besar, maka potensi wakafnya pun fantastis sbgm sudah dirilis risetnya oleh banyak lembaga kredibel. Perwakafan ini urusan besar dan menyangkut kesinambungan kemajuan umat.

Wakaf harus bisa dikelola secara professional dan cara-cara yang modern. Ada yg unik di Indonesia ini, karena sebagian besar wakaf dikelola oleh masyarakat (swasta; civil society), sehingga banyak lahir yayasan-yayasan yang menggerakkan wakaf dan kebanyakan masih dengan cara-cara tradisional.

Maka, secara adat sesungguhnya gerakan wakaf sudah ada dan dinamis di masyarakat kita. Hanya saja, perlu sentuhan lebih baik dari sisi menejemen, akuntabilitas, dll untuk mencapai lompatan wakaf. Negara harus lebih maksimal kehadirannya dalam hal ini.

Nadhir harus memiliki cara-cara yang bisa memudahkan umat untuk berwakaf. Bedakan bagaimana cara memancing kelas bawah, menengah dan kelas atas. Maka, harus disesuaikan pola dan strateginya. Setiap jiwa dari umat Islam adalah potensi wakaf, ini yg harus digerakkan secara dinamis. Pada intinya ada potensi besar umat yang belum tergali secara maksimal.

Para ulama punya tanggungjawab besar dalam menyiarkan dan menggerakan wakaf sebagai sebuah potensi besar utk kemajuan umat. Ulama dengan kapasitasnya perlu terus mentaujih (mengarahkan) umat utk melakukan gerakan-gerakan kemajuan.

Ulama jangan sekedar berhenti pada kuantitas jamaah saja dalam berdakwah, tetapi harus mampu menjadikan kuantitas besar jamaahnya itu sebagai peluang menggerakkan wakaf. Harus didengungkan terus pada jamaah agar mereka bisa melahirkan karya peradaban sepanjang masa.

Jadi, ulama yang memiliki jamaah banyak dan loyal, sudah mulai mengarahkannya pada karya-karya monumental peradaban umat, baik itu sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, pusat ekonomi umat, dan lain sebagainya.

Peradaban umat bisa dibangun melalui kolaborasi antara ulama dan pengusaha. Inilah yang saya sebut sebagai SUNNAH RASUL DALAM PERGERAKAN, yaitu KOLABORASI ULAMA+ SAUDAGAR.

Cobalah perhatikan dlm sejarah dakwah Rasul baik di Makkah maupun di Madinah hampir tidak pernah tidak didampingi para saudagar. Sebut saja, di Makkah dakwah Rasul diback-up oleh Siti Khadijah RA, di Madinah oleh Abu Bakar As-Shiddiq RA, Ustman bin Affan RA, Abdurrahman bin Auf RA, Abu Thalhah RA, dan lain sebagainya. Mereka semua adalah sahabat-sahabat Rasul yang notabene adalah saudagar.

Ilustrasi sederhananya: para saudagar jika mereka berkumpul dalam komunitasnya saja tanpa ada bimbingan ulama, kira-kira apa yang akan mereka lakukan, dan apa yang akan dibangun? Jika tdk ada yang mengarahkan maka potensi saudagar itu bisa mubadzir; nnt malah bangun mall, lapangan golf, atau dananya buat main politik, wanita bahkan judi. Itulah pentingnya saudagar harus didampingi ulama, supaya jurusannya jelas.

Sebaliknya, jika ulama saja yg berkumpul di komunitasnya, apa yg bisa mereka lakukan? Bisakah membangun peradaban tanpa modal? Oleh karenanya sekali lagi, KOLABORASI ULAMA + SAUDAGAR.

Ruh inilah yang sekarang mulai luntur; saudagar jalan sendiri, ulama jalan sendiri. Bahkan, yayasan Islam dan sekolah-sekolah Islam jarang sekali yang melibatkan saudagar di dalamnya, jika pun ada, jumlah dan kapasitasnya kecil. Akhirnya, yg terjadi saudagar-saudagar itu justru didekati oleh partai-partai politik, klub-klub, dan lain sebagainya. Tentu saja, baik jika memang tujuannya baik, akan tetapi alangkah lebih baik lagi jika ulama yang saleh dan amanah bisa berkolaborasi dengan saudagar.

Demikianlah beberapa kutipan seminar pembinaan lembaga dan nadhir wakaf.

Dikutip oleh tim Ziswaf Tazakka:

  1. Subhi Mahmassani, S.H.I
  2. Edi Buana, S.Pd.I
Connect with Me:

Leave a Reply